Mari kita jujur sejenak. Ada satu momen dalam wawancara kerja yang bisa membuat profesional paling percaya diri sekalipun mendadak berkeringat dingin. Momen itu adalah ketika rekruter tersenyum, menatap Anda, dan melontarkan pertanyaan yang ditakuti:
Pernahkah Anda merasakan perut melilit setiap Minggu malam hanya dengan memikirkan hari Senin? Atau merasa harus terus-menerus waspada di kantor, seolah berjalan di atas pecahan kaca? Anda merasa lelah luar biasa, bukan karena tumpukan pekerjaan, tetapi karena terkuras secara emosional. Kepercayaan diri yang dulu Anda miliki perlahan terkikis, digantikan oleh keraguan dan kecemasan.
Jika Anda lahir antara tahun 1981 hingga 1996, selamat—Anda adalah bagian dari generasi milenial, angkatan kerja yang saat ini mendominasi panggung profesional di Indonesia. Kita adalah generasi yang dibesarkan di persimpangan era analog dan digital, dan itu membentuk cara kita memandang dunia, termasuk soal karir.
Pernahkah Anda merasa seperti baterai ponsel yang terus-menerus di angka 10%? Anda sudah mencoba istirahat, tidur lebih lama di akhir pekan, bahkan mengambil cuti sehari, tapi rasa lelah itu seolah menempel permanen. Motivasi yang dulu membara kini tinggal asap. Pekerjaan yang dulu Anda cintai, kini terasa seperti beban berat yang harus diseret setiap hari.