Pernahkah Anda merasa otak Anda seperti browser komputer yang memiliki 50 tab terbuka sekaligus? Ada tab untuk deadline yang mendekat, tab untuk email yang belum dibalas, tab untuk presentasi besok, tab untuk notifikasi grup WhatsApp, dan tab untuk memikirkan makan malam nanti.
Pernahkah Anda merasakan ini? Anda baru saja mengirim email penting ke atasan, dan lima menit kemudian, “Si Monster Cemas” di kepala Anda mulai beraksi.
“Aduh, kalimatku tadi aneh nggak ya? Kenapa belum dibalas? Pasti dia marah. Jangan-jangan aku akan kena masalah. Karirku tamat.”
Anda merasa seperti sedang berlari di atas treadmill yang tidak bisa berhenti. Anda lelah, tapi terus berlari. Anda tahu ada sesuatu yang salah—semangat yang dulu membara kini tinggal percikan kecil, pekerjaan terasa seperti beban, dan Anda merasa kehilangan arah. Mungkin Anda belum sampai di titik terendah, tapi Anda sadar sedang meluncur ke sana.
Pernahkah Anda bangun tidur di pagi hari, tapi rasanya lebih lelah daripada saat Anda pergi tidur semalam? Atau mungkin sakit kepala di sore hari sudah menjadi “teman setia” yang datang tanpa diundang? Anda mungkin menyalahkan kurang tidur, posisi duduk yang salah, atau cuaca yang tidak menentu.
Bayangkan skenario ini: Jam menunjukkan pukul 4:55 sore di hari Jumat. Anda sudah merapikan meja, pikiran sudah melayang ke rencana akhir pekan yang tenang. Tiba-tiba, atasan Anda datang dengan senyum lebar dan sebuah map di tangan. “Bisa tolong bantu selesaikan laporan ini? Deadline-nya Senin pagi, tapi sepertinya tidak akan lama,” katanya.